-
Indie Art Wedding (IAW)
Indie Art Wedding (IAW)
Ditulis oleh “Utha”
Mereka menyebut dirinya “Indie Art Wedding” (hanya nama guyonan yang diberikan teman-temannya) ini bukan sebuah band, melainkan sebuah komposisi duet yang menurut saya bakal menyaingi duo Maia nantinya atau mungkin Franky and Jane. Indie Art Wedding menurut personilnya bermakna, Indie secara budget, menghasilkan sebuah karya seni (Art) momentnya adalah pernikahan (Wedding) Bahkan lagu rilisan mereka dirilis secara gratis tanggal 11 Oktober lalu, sayang saya tidak sempat melihat penampilan mereka. Mereka adalah, Cholil Mahmud dan Irma (sorry mbak Ir, daku lupa nama panjangmu hehe) Cholil sendiri dikenal sebagai vokalis dari band yang sedang booming di kalangan anak muda ‘Efek Rumah Kaca’ dan Irma adalah istrinya yang baru saja dinikahinya 5 Oktober lalu. Entah menggunakan formula apa dalam pembuatan lagunya, tapi lagu yang mereka nyanyikan berdua dan dibagikan gratis di resepsi pernikahan mereka cukup menghibur saya, selain liriknya yang simple dan penuh wejangan, musik yang simple tidak terlalu banyak menggunakan instrumen dan serentetan nada-nada manis membuat hari -hari saya ceria belakangan ini. Perpaduan Moldy Peaches, Arcade Fire, Adam Green, membayangkan seperti duet Franky and Jane sempat ngehits di era 90an. Semacam Lo - fi (low fidelity) atau musik yang hanya direkam dengan menggunakan tape recorder di kamar, musik yang menjadi tren semenjak film Juno. Diawali dengan Dua Langkah Kecil, suara gitar akustik nylon begitu kental di lagu ini, sekilas terdengar seperti ukulele (atau memang ukulele ya?!) suara Irma terdengar sekilas seperti Sari dari White shoes and co. seperti mendengarkan Israel Kawakawiwo’ole membawakan what a wonderful world / somewhere over the rainbow di film 50 first dates. Lagu kedua Cinta itu sengit saya sangat suka lirik lagu ini.. “Aku tak suka ku tak juga berhenti merokok Aku tak suka kamu tak suka aku merokok Aku tak suka kamu selalu bangun kesiangan Aku tak suka kamu tak suka ku kesiangan” Seakan pasangan ini mengungkapkan ketidaksukaan mereka terhadap kebiasaan masing - masing. tanpa harus saling menggurui satu sama lain, sungguh unik. Ambience gemericik perkusi yang bersuara seperti air di akhir lagu menambah kesan teduh di lagu ini. Untuk anak - anakku dan anak dari anak - anakku menjadi lagu ke tiga, seakan sebuah petuah orang tua kepada anak - anak nya. lagi lagi saya sangat suka liriknya “…mimpikan ayah ibumu tidak bertengkar tak ada piring terbang, yang melayang - layang tidak ada baku hantam, semua senang…” Permainan gitar Cholil yang simple dan lebih mengarah ke pada permainan gitar klasik. membuat lagu ini makin beresensi. Hidup itu pendek, Seni itu panjang Mungkin ini satu - satunya lagu yang menggunakan drum, dan saya menangkap aura Yellow Submarine di lagu ini, entah disengaja atau tidak. lagi - lagi Cholil dan Irma mencoba berbagi petuah untuk semua orang, saya membayangkan mereka bernyanyi sambil berpegangan tangan di jalan-jalan kota„ hehe sungguh menyenangkan. Lagu favorit saya! Tidak dipungkiri, Cholil merupakan salah satu musisi yang sangat berbakat mampu merangkai tema lirik yang unik dan nada yang manis ditambah dengan Bahasa Indonesia, dan tidak semua orang bisa mengapresiasikan kata-kata dengan Bahasa Indonesia, yang ‘tidak biasa’ Gudluck buat Mas Cholil dan Mbak Irma! mynameisuta “just an ordinary review”
-
heyrockapolka liked this
-
putradwiaditya reblogged this from yurskie
-
pure-insecure reblogged this from yurskie
-
ferdiansyahfarhan liked this
-
efekrumahkaca reblogged this from yurskie
-
yurskie posted this


